PERJUANGAN
RAKYAT BAITO MENENTANG IMPERIALISME BELANDA PADA TAHUN 1914[1]
Oleh
Joni Iskandar[2]
H. Anwar[3]
ABSTRAK
Fokus utama penelitian ini
mengacu pada beberapa masalah yaitu (1) Mendeskripsikan latar belakangi
terjadinya perlawanan Rakyat Baito terhadap Hindia Belanda (2) MenganalisisStrategi
dan taktik yang dilakukan oleh Rakyat Baito dalam menentang Hindia Belanda (3) Mendeskripsikan
dampak yang ditimbulkan dari perlawanan Rakyat Baito terhadap Hindia Belanda. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yang menempuh empat
tahapan kerja sebagai berikut: (1) Heuristik, yaitu pengumpulan data melalui
studi kepustakaan, penelitian lapangan, dan pengamatan, (2) Kritik, yakni
penilaian terhadap otensititas dan kredibilitas data, (3) Interpretsi yakni
penapsiran terhadap data yang telah dikritik, dan (4) Historiografi, yakni
penyusunan data secara kronologis, sistematis, dan ilmiah. Hasil penelitian
menunjukan bahwa: (1) Latar belakang perjuangan Rakyat Baito menentang Hindia
Belanda adalah adanya usaha bangsa Belanda menguasai daerah Konawe baik dari
segi politik, ekonomi, sosial dan budaya, serta adanya tindakan kejam dan
sewenang-wenang yang dilakukan oleh pemerintahHindia Belanda terhadap rakyat, (2)
Rakyat Baito dalam menentang Hindia Belanda melakukan strategi yaitu dengan
cara mengadakan gerakan sosial dan membuat pertahanan di puncak gunung, dan
taktik yang dilakukan Rakyat Baito yaitu dengan perang geriliya, (3) Dampak dari perjuangan Rakyat Baito menentang
Hindia Belanda dapat dilihat dari berbagai segi yaitu bidang politik keinginan Bangsa
Belanda untuk menguasai kerajaan Konawe mengalami hambatan namun setelah mereka
dapat menumpas segala perlawanan Rakyat Baito, Bidang sosial rakyat harus
mengikuti rodi, membayar pajak sebagai akibat dari adanya peraturan Belanda tersebut
rakyat semakin menderita dan melarat, dibidang ekonomi pemerintah Hindia
Belanda melakukan pembukaan jalan kebeberapa jurusan pedalaman dan dengan
dibukanya jalan tersebut maka terbukalah peluang bagi mereka untuk menjual
hasil hutan dan kebun kepada pedagang-pedagang yang menjadi kaki tangan Belanda.
Bidang ketahanan dan keamanan dengan terbukanya jalan baru tersebut ternyata
membawah keuntungan bagi pertahanan dan ketahanan mereka, karena dengan
jaringan jalan tersebut dapat mempermuda untuk mengadakan patroli memasuki
daerah-daerah pedalaman yang sebelumnya sangat sulit untuk dilaksanakan.
Kata
Kunci:
Menentang, Imprealisme Belanda,
Perjuangan, dan Rakyat Baito
PENDAHULUAN
Pemerintah
Hindia Belanda berkuasa dikerajaan Konawe adalah sejak tahun 1906. Kerajaan
Konawe adalah merupakan salah satu kerajaan dari empat kerajaan besar di
Sulawesi Tenggara, diantaranya Kerajaan Buton dan Kerajaan Muna keduanya berada
dikepulauan, Kerajaan Konawe/Laiwoi dan Kerajaan Mekongga (Kolaka) keduanya berada di-daratan. Keempat
kerajaan tersebut menan-datangani Korte
Verklaring (Perjan-jian Pendek/Singkat) yang menjadi momentum Belanda
menganeksasi wilayah Kerajaan Konawe dan dimasukkan dalam Hindia Belanda.
Setelah Belanda berkuasa di Kerajaan Konawe berbagai dampak dirasakan oleh
Rakyat Konawe, usaha Belanda memaksakan monopoli perda-gangan, dan mencampuri
urusan ursan kerajaan Konawe menimbulkan perlawanan Rakyat Konawe terhadap
Imperealisme dan Kolonialisme diwilayah Konawe. Latar belakang meletusnya
perlawanan Konwe terhadap Imperialisme dan Kolonialisme Belanda disebabkan
antar lain karena mempertahankan kehidupan yang bebas dan merdeka yang dimiliki
sejak beberapa abad lampau yang dengan kedatangan bangsa Belanda ini akan tidak
berlaku lagi. Sebagai contoh dapat dikemukakan, bahwa pada waktu berhubungan
dengan bangsa Portugis, mereka bebas saling tukar menukar barang dengan
senjata, tetapi dengan Belanda akan lain keadaanya. Kemarahan dan ketidak senangan
rakyat terhadap bangsa Barat ini menjadi memuncak adalah karena Belanda semakin
menginjak-injak kedaulatan rakyat Kerajaan Konawe dan Belanda telah memecah
belah persatuannya untuk kemudian menguasainya. Hal ini terbukti setelah
Belanda berhasil mendirikan Negara Bonekayakni Kerajaan Laiwoi yang tidak didukung oleh rakyatnya dan para
bangsawan Konawe, ketidak senangan rakyat Konawe ini diwujudkan dalam suatu
perlawanan terhadap Belanda (Basrin Melamba, 2013: 339).
Perlawanan
Kerajaan Konawe tidak saja terjadi dipusat kerajaan Konawe, tetapi terjadi pula
didaerah-daerah antara lain Manumohewu di Palangga, di Wawowonua Baito dan di
Wuu ura Motaha. Di Wawowonua dekat Baito terdapat suatu pertahanan menentang
kehadiran Belanda di Konawe Selatan. Perlawanan ini dike-palai atau dipimpin
oleh seorang tokoh yaitu Polonui yang memilih puncak sebuah gunung sebagai
kubuh pertahanannya. Lereng gunung dibersih-kan dari pohon-pohon, lalu
dipersiapkan batang-batang kayu yang besar-besar dari puncak gunung untuk
digulingkan kebawah. Pada tahun 1914 tibalah pasukan Morses Belanda untuk
menaklukkan Polonui, dan pasukannya (Rakyat Baito). Segera mereka mandaki
gunung melalui jalan yang sudah dibukakan. Setelah seluruh pasukan berada
dipuncak gunung, dilepaskanlah batang-batang kayu yang terikat dipuncak gunung
menggulung dan menghancurkan pasukan yang sedang mendaki. Korban Belanda tidak
sedikit (Basrin Melamba, 2013: 352)
Dalam
melakukan perlawanan, Polonui dan Rakyat Baito dibantu oleh seorang tabib
perempuan yang bernama Tie Lete dan seorang yang merupakan komandan pasukan
bernama Lindo yang melatih pasukan tentang teknik berkelahi dan membunuh lawan,
kebiasaan mereka memperagakan perang berupa tarian perang yang disebut Umoara. Dalam mengadakan perang, sebagai-mana
pula pejuang-pejuang lainnya di Kerajaan Konawe, Rakyat menggunakan taktik dan
strategi perang geriliya yang selalu berpindah-pindah tempat dan sewaktu-waktu
dapat melakukan sera-ngan mendadak kemudian masuk hutan kembali. Dengan cara
demikian pihak Belanda selalu kewalahan menghadapi perlawanan Rakyat sehingga
sering menimbulkan kerugian besar bagi mereka.
Dari
latar belakang diatas maka peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
(1) Apakah yang melatar belakangi terjadinya perlawanan Rakyat Baito terhadap
Hindia Belanda? (2) Bagaimana strategi dan taktik yang dilakukan oleh Rakyat
Baito dalam menentang Hindia Belanda? (3) Bagaimana dampak yang ditimbulkan
dari perlawanan Rakyat Baito terhadap Hindia Belanda?
KAJIAN PUSTAKA
Teori Gerakan Sosial
Gerakan
Sosial adalah tindakan kolektif yang diorganisir secara longgar, tanpa cara
terlembaga untuk menghasil-kan perubahan dalam masyarakat mereka (Lothrop
Stoddard, 2005: 325). Gerakan sosial umumnya lahir dari situasi yang dianggap
tidak adil sehing-ga diperlukan sejumlah tindakan untuk merubahnya.
Dari
pengertian diatas, dapat ditarik benang merah bahwa, tanpa adanya ketidak
puasan, geraka sosial tidak akan mungkin tercipta. Menyang-kut gerakan sosial
perjuangan rakyat, maka teori gerakan sosial yang relevan untuk dipakai adalah
teori ketidak puasan dengan cara aksi kolektif atau teori aksi kolektif.
Perjuangan Rakyat Baito terjadi karena adanya ketidak puasan, ketidak adilan,
perampasan hak, dan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial
Belanda. Rakyat Baito yang tidak tahan dengan kesewenang-wenangan yang
dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda melakukan perlawanan.
Konsep Imperialisme
Imperealisme
muncul sebagai akibat adanya kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan
tekhnologi sehi-ngga mengakibatkan munculnya pola-pola kehidupan masyarakat
barat yang diikuti oleh peralihan kehidupan dari sistem tradisional ke sistem
modern.
Imperealisme
adalah politik untuk menguasai seluruh dunia dengan paksaan untuk kepentingan
diri sendiri yang dibentuk sebagai imperiumnya. Menguasai tidak berarti merebut
dengan kekuatan senjata, tetapi dapat juga dengan menggunakan kekuatan ekono-mi,
kultur, agama, dan ideologi, Imperealisme tidak hanya berarti daerah-daerah
jajahan tetapi dapat juga berupa daerah pengaruh kekuasaan (Soebantardjo, 1960:
236).
Pada
umumnya kegiatan imperealisme itu sendiri dimulai dengan kegiatan inflitrasi
atau penyusupan, invasi atau penyerbuan serta dengan agresi yang dilakukan
tanpa mengin-dahkan aturan-aturan hukum internasio-nal yang berlaku sehingga
selalu mengandung pengertian yang negatif. Sejalan dengan kenyataan tersebut,
maka dalam kamus pengetahuan umum dan politik
disebutkan bahwa imperea-lisme pada dasarnya bertujuan untuk menghapus
kemerdekaan bangsa lain karena ditaklukannya atau dipaksanya secara halus atau
kasar menurut kehendak atau keinginan demi kepen-tingan kaum imperealis
(Hidayat, 1986: 409).
Konsep Nasionalisme
Setiap
bangsa didunia, tentunya memiliki rasa cinta akan tanah air dan bangsanya
sehingga dalam segala hal timbul keinginan untuk selalu berusaha menjaga dan
mempertahankan diri dari segala bentuk ancaman yang dapat menghancurkan
keutuhan bangsanya. Konsep nasionalisme sering dikaitkan dengan praktek
kolonialisme, pada jaman penjajahan manipestasi nasiona-lisme lebih nyata dalam
melawan kolonialisme, olehnya itu nasionalisme suatu bangsa sangat penting
dalam kehidupan bernegara dalam memper-satukan keutuhan bangsanya.
Timbulnya
nasionalisme di Indonesia tidak terlepas dari situasi politik dan reaksi
terhadap imperealisme dan kolonialisme barat yang telah meng-injak-injak
martabat Bangsa Indonesia selama kurun waktu lebih tiga setegah abad lamanya,
dengan demikian pera-saan senasib dan sepenanggungan akan mendorong aktivitas
masyarakat dalam mempercepat proses terbinanya sema-ngat kebangsaan.
Konsep Pertahanan
Membahas masalah
konsep pertahanan mengandung maksud bahwa pertahanan diperlukan oleh suatu
bangsa atau negara guna melindungi dirinya dari serangan atau ancaman yang
dapat membahayakan kepentingan dari negara yang bersangkutan. Memang pada
dasarnya pertahanan memiliki kedudu-kan yang sangat penting karena kokoh
tidaknya suatu daerah banyak ditentukan oleh kondisi pertahananya. Sesunguhnya
konsep pertahanan itu sendiri tidak terlepas dari strategi perang dimana kata
strategi itu berasal dari bahasa Yunani yang mengandung pengertian sebagai the
art of general atau seninya seorang panglima. Konsepsi perang/konsepsi
pertahanan merupakan dasar bagi per-encanan untuk mempersiapkan perang.
Pertahanan adalah pikiran umum tentang siapa musuh, dimana akan terjadi perang,
bila mana perang itu akan pecah, bagaiman perang akan dilakukan serta tujuan
apa yang akan dicapai dari perang tersebut (Saidiman Suryohadiprojo, 1985: 68).
Sehubungan
dengan pendapat diatas maka konsep merumuskan apa yang dipakai dalam menyusun
per-tahanan apakah akan menggunakan cara opensif (menyerang) atau dengan cara
defensif (bertahan). Untuk melakukan opensif berarti suatu negara harus
mengadakan serangan dengan kekuatan senjata, memasuki daerah musuh dan
menduduki daerah-daerah penting dalam wilayahnya yang bersangkutan. Perse-diaan
sarana dan prasarana militir sangat menunjang dengan cara ini. Jika suatu
negara tidak dapat menggunakan dengan cara opensif maka negara tersebut dapat
menggunakan cara defensif. Hal ini negara tersebut harus mampu memper-tahankan
kedudukannnya dan menolak apa yang diinginkan oleh musuh dengan jalan membangun
saran dan prasarana militer dari daerah itu sendiri (Saidiman Suryohadiprojo,
1985: 70).
Pada dasarnya
proses terben-tuknya suatu sistem pertahanan dari suatu daerah atau negara
disamping muncul dari daerah itu sendiri yang menginginkan stabilitas yang aman
juga terkadang muncul dari bangsa pendatang yang menguasai suatu daerah,
kemudian membangun suatu sistem pertahanan yang kuat guna melindungi
kepentingan dan memperlancar arus penduduknya. Hal ini telah banyak dibuktikan
dalam sejarah bahwa banyak sistem pertahanan yang didirikan oleh kaum
imperealis pada suatu daerah setalah itu diduduki-nya separti halnya dengan
pendudukan tentara tentara Belanda di Sultra suatu daerah yang strategis untuk
kepentingan perangnya maupun untuk kepentingan ekonominya maka disitulah
didirikan benteng-benteng pertahanan yang kesemuanya dimaksudkan untuk
mendukung imperialismenya.
Hasil
penelitian lain dilakukan oleh La Anti (2004: 38)tentang Muna Affair tahun 1947
(Perjuangan Batalyon Sadar Terhadap NICA
Distrik Katobu Onderafdeling Muna) mengungkapkan bahwa Perlawanan Batalyon
Sadar terhadap NICA disebabakan karena adanya tindakan sewenang-wenang tentara
NICA yang melakukan teror, intimidasi dan provokasi terhadap masyarakat Muna.
Selain itu juga dipicu oleh adanya sikap dan perlakuan tentara NICA (Belanda)
yang memaksa masyarakat Muna untuk menanam pohon jati yang akan menjadi milik
Pemerintah Kolonial Belanda.
Berdasarkan
hasil penelitian tersebut menunjukan perlunya dilakukan penelitian tentang
perjuangan Rakyat Baito menentang Imperealisme Belanda, karena selama ini belum
ada kajian yang khusus membahas masalah tersebut.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian
ini dilaksanakan di Desa Baito, Kecamatan Baito, Kabupaten Konawe Selatan, dan
penelitian ini di laksanakan pada bulan Januari 2016-Maret 2016.
Jenis
penelitian ini merupakan jenis penelitian Sejarah yang bersifat kualitatif
deskriptif dengan menggunakan pendekatan strukturis yang mempelajari peristiwa
dan struktur sebagai suatu kesatuan yang saling melengkapi. Artinya peristiwa
mengandung penguatan mengubah hambatan atau dorongan bagi tindakan perubahan
dalam masyarakat.
Sumber
data yang digunakan dalam penelitian ini terbagi dalam tiga kategori sebagai berikut: (1) Sumber tertulis, yaitu
data diperoleh dalam bentuk tulisan yang berupa buku, skripsi, serta hasil
penelitian yang relevan yang mendukung perolehan data penyusunan kripsi ini.
Sumber tersebut diperoleh di beberapa perpustakaan, maupun dilokasi penelitian
serta melalui internet. (2) Sumber lisan, yakni diperoleh data melalui
keterangan lisan (wawancara) dengan tokoh-tokoh adat yang mengetahui tentang
perjuangan rakyat Baito dalam menentang imperialisme Belanda pada tahun 1914.
(3) Sumber Visual, yaitu diperoleh melalui benda-benda peninggalan rakyat Baito
yang ikut berperang, atau berjuang.
1.
Metode
Penelitian
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah sebagaimana yang
dikemukakan oleh Nugroho Notosusanto (1978: 36) bahwa keseluruhan prosedur
kerja metode sejarah biasanya dibagi atas empat tahap kegiatan, yaitu: (1).
Heuristik, yakni kegiatan menghimpun jejak-jejak masa lampau, (2). Kritik,
yaitu menyelidiki apakah jejak-jejak itu sejati baik bentuk maupun isinya, (3).
Interpretasi, yakni menetapkan makna dan saling hubungan dari pada fakta-fakta
yang diperoleh, dan (4). Historiografi, yakni menyampaikan sintesa yang
diperoleh dalam bentuk suatu kisah.
Tahap pertama,
Tahap heuristik, yaitu upaya untuk menghimpun data yang relevan dengan pokok
permasalahan dalam penelitian ini. Heuristik merupakan tahap awal dari
historiografi yang diawali dengan tahap penjajakan, perincian, serta
pengumpulan sumber yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Tahap ini
merupakan langkah awal dalam melakukan kegiatan mencari dan mengumpulkan data
yang relevan dengan pokok perma-salahan
dalam penelitian. Adapun teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut: (a) Studi
kepus-takaan, yakni teknik yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan
dengan menelaah bebe-rapa buku/literatur, skripsi, majalah, serta sumber-sumber
tertulis lainnya yang ada relevansinya dengan masalah yang diteliti. (b) Studi
lisan, yaitu melakukan wawancara dengan informan yang dianggap banyak
mengetahui tentang perjuangan Rak-yat Baito dalam menentang impe-realisme
Belanda pada tahun 1914. (c) Pengamatan, yaitu mela-kukan peninjauan
benda-benda peninggalan Rakyat Baito dalam berperang atau berjuang
Tahap kedua,
Kritik yaitu kritik data untuk menyeleksi apakah data yang telah dikumpulkan
tersebut akurat atau palsu, benar atau salah. Untuk menilai keaslian dan kebena-ran
suatu data yang dikumpulkan maka perlu dilakukan kritik eksteren dan kritik
interen.
a. Kritik
eksteren yaitu kritik yang dilakukan untuk mengetahui apakah data yang
didapatkan asli atau tidak, hal ini dilakukan analisis terhadap keautentikan
suatu sumber dengan jalan menyelidiki sifat-sifat luar dari sumber tersebut.
b.
Kritik interen yaitu kritik yang
dilakukan dengan mengevaluasi kebenaran dan keabsahan data yang dapat dilakukan
dengan cara melakukan analisis terhadap suatu sumber dengan jalan memban-dingkan
antara bukti yang didapat dengan bukti-bukti lainnya melalui hasil pengamatan
dan wawancara langsung kepada objek pelaku peneliti.
1. Interpretasi
(penafsiran data).
Setelah
dilakukan kritik atau penilaian data melalui kritik eksteren dan kritik
interen, maka data tersebut kemudian diinterpretasi atau dita-fsirkan dengan mengacu
pada konsep yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Pada tahap ini
keaslian dan kebenaran sumber data yang sudah ditetapkan melalui tahap kritik,
selanjutnya dihubungkan antar data yang satu dengan data yang lainnya sehingga
didapatkan suatu fakta sejarah yang dapat dipercaya kebena-rannya secara
ilmiah.
Tahap ketiga,
Historiografi yaitu merupakan tahap akhir dari seluruh rangkaian penelitian
sejarah. Pada tahap ini dilakukan penyusun kisah sejarah secara kronologi dan
sistematik berdasarkan fakta dan data yang telah dikumpulkan sebagai bukti dalam penulisan sehingga
menjadi suatu kisah yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah
HASIL DAN PEMBAHASAN
Latar Belakang Perlawanan Rakyat Baito
Menentang Hindia Belanda
Latar
belakang perjuangan Rakyat Baito secara umum sama halnya yang melatar belakangi
perjuangan diseluruh kawasan Nusan-tara yakni tidak terlepas dari awal mula
kedatangan bangsa Belanda di Indonesia yang bertujuan menanam-kan kekuasaan
koloni baik dibidang politik, ekonomi maupun sosial budaya dalam usaha
membulatkan daerah jajahan di Indonesia.
Di
Sulawesi Tenggara banyak muncul perlawanan menentang Impe-rialisme Belanda dan
banyak mela-hirkan pejuang-pejuang yang menjadi tokoh utama penggerak rakyat
untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda dida-erahnya
masing-masing. Seperti di Pulau Muna, Pulau Buton, di daerah Mornene, Kolaka,
dan Konawe.
Terlebih-lebih
ketika Suleman-dara mangkat pada tahun 1904 segera Belanda mengetahui bahwa
rakyat Konawe ketidak adaan pucuk pimpinan, maka dengan segera pula siasat
politik Devide Et Impera dilancarkan,
para bangsawan Konawe harus diadu domba agar mereka menjadi lemah dan bisa
dikuasai.
Langkah
selanjutnya yaitu seusai perang Bone-Belanda semakin memusatkan parhatiannya
terhadap jazirah tenggara sulawesi yang tidak lain dimaksud adalah Konawe yang
sangat potensial kekayaan alamnya, oleh sebab itu pihak Belanda kembali
memeriksa dokumen rahasia tentang perjanjian-perjanjiannya diber-bagai daerah
Nusantara dan didapatinya kembali perjanjian tahun 1858 tentang terbentuknya Kerajaan Lai-woi dengan persetujuan
pihak Belanda (Husen. A. Chalik, 1982: 42).
Dalam
melaksanakan politik kolonial Belanda telah melakukan berbagai tindakan yang
pada dasarnya ditujukan untuk memperkokoh kekuasaan kolonialnya, salah satu
cara yang ditempuh yakni dengan mengeluarkan bermacam-macam aturan pajak yang
dirasakan oleh rakyat sangat memberatkan dan jika dilanggar akan dikenakan
sangsi berupa hukuman kerja (David Fatta, wawancara tanggal 7 Februari 2016)
Demikian
pula dalam perkem-bangan pengaruh kolonialnya, terlihat oleh rakyat Konawe
bahwa hal itu telah memasuki kehidupan tradisional dalam segala segi kehidupan.
Dalam bidang politik misalnya pengaruh Belanda semakin kuat setelah melakukan
intervensi intensif dalam persoalan-persoalan kekuasaan tradi-sional seperti
dalam hal pengang-katan pejabat-pejabat kerajaan dan pelaksanaan kebijaksanaan
kerajaan.
Semakin
banyak turut campur Belanda pada kekuasaan tradisional mengakibatkan penguasa tradisional
semakin tergantung pada kekuatan Belanda, sehingga kebebasan dan kekuasaan
untuk menentukan kibijak-sanaan dalam negeri sendiri semakin menipis. Disamping
itu penguasa wilayah yang dilakukan oleh Belanda berakibat pula makin
berkurangnya penghasilan penguasa-penguasa tradi-sional.
Dalam
bidang sosial dengan adanya campur tangan Belanda maka kekuasaan pejabat
kerajaan dikurangi dan bahkan diganti melalui pilihan Belanda, disamping itu
peranan kehidupan golongan bangsawan ke-pada masyarakat umum disebagian wilayah
Baito telah hilang dan ban-yak memperbudak kalangan Rakyat Baito (David
Fatta, Wawancara Tanggal 7 Februari 2016). Sedangkan dibidang kebudayaan
terlihat pula adanya gejala pengaruh kebudayaan tradisional yang merupakan
warisan dari leluhur (Abduh, 1985: 103).
Jadi
jelasnya intervensi Kolonial Belanda dalam segala aspek yang bertujuan ekspansi
wilayah dalam rangka praktek kolonialnya ini memancing perlawanan Rakyat Baito.
Karena itu dengan latar belakang keadaan Daerah Baito yang mengalami tindakan
kejam dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya selama berhubungan
dengan Bangsa Belanda serta atas dasar semakin luasnya pengaruh Kolonial
Belanda dalam kehidupan pemerintah tradisional menyebabkan bangkitnya
tokoh-tokoh pemimpin perlawanan yang bahkan kemudian mempelopori perjuangan
untuk mengusir penjajah Belanda. (Wawancara Muslim Riajal Polonui, Tanggal 9
Januari 2016). Tokoh-tokoh pemimpin tersebut kebanyakan dari raja-raja
tradisional dan golongan rakyat biasa yang mulai menyadari bahwa akibat perten-tangan-pertentangan
diantara mereka karena perebutan pengaruh yang semakin dipertajam oleh Belanda
menyebabkan mudahnya wilayah dikuasai.
Latar
belakang perlawanan Rakyat Baito secara umum dilakukan karena kedatangan bangsa
Belanda didaerah Baito yang ingin menanam-kan pengaruh kolonialnya baik
dibidang politik, ekonomi, sosial, maupun budaya.
Sebab
Khusus perjuangan Rakyat Baito menentang Hindia Belanda diwilayah Wawowonua
Baito secara khusus dilatar belakangi oleh ketidak sena-ngan terhadap Belanda
yang akan mulai memperluas pengaruhnya memasuki wilayah Baito, dan alasan
lainya yaitu Rakyat Baito menentang Imperialisme Belanda. Pertama ideologi
pribumi yang tetap melekat pada Rakyat Baito mereka tidak sudi diperintah oleh
bangsa asing yaitu Belanda yang mereka sebut Mata Wila (Mata Putih). Kedua, Rakyat Baito tidak setuju perlakuan
Belanda terhadap rakyat dengan memerin-tahkan untuk membuat jalan melalui
Heredients yaitu rodi kampung atau kerja paksa yang dibebankan kepada rakyat,
ketiga, hilangnya kebebasan rakyat Baito, dan yang keempat adanya tindakan
sewenang-wenang dan tindakan kejam pemerintah Kolonial Belanda terhadap Rakyat
Baito.
Strategi dan Taktik Perjuangan Rakyat
Baito dalam Menentang Hindia Belanda
Strategi Perjuangan
Pemimpin
perjuangan atau Polonui dalam membentuk suatu gerakan sosial berusaha melakukan
suatu propaganda terhadap suatu masyarakat sehingga sehingga dalam waktu
singkat polonui berhasil menghimpun masyarakat sebanyak 40 kepala keluarga,
kemudian mereka mengasingkan diri guna menghindari pengaruh dari pemerintah
Kolonial Belanda dan melakukan perlawanan. Akibat dari gerakan yang dilaku-kannya
maka pemerintah Belanda dibawah pasukan morsesnya menga-dakan penyerbuan
sehingga berhasil menawan istri beliau, dengan demi-kian maka Polonui terpaksa
menye-rahkan diri kepada pemerintah Belanda dan bersedia tunduk terha-dap
pemerintah Belanda. Setiba di daerah Polonui berpura-pura untuk tunduk terhadap
pemerintah Belanda, namun dibalik semua itu Polonui tetap berusaha menghimpun
anggota masyarakat lalu kemudian mereka melarikan diri kesuatu tempat yang
lebih jauh dan sangat sulit untuk dijangkau oleh pihak lawan. Setelah sampai
kedaerah tujuan mereka mendirikan suatu perkampungan di-puncak gunung yang
mereka namakan Wawo Wonua atau perkam-pungan
yang berada ditempat ketinggian. Untuk lebih menarik simpatisan terhadapa
rakyat maka Polonui mengumumkan kepada rak-yat bahwa di Wawo Wonua tersebut terdapat tabib (o’sando) yang dapat
menyembuhkan segala macam penya-kit yang diderita oleh rakyat. Tabib tersebut
bernama Tie Lete sehingga dalam waktu singkat polonui berhasil menghimpun
sebanyak 80 kepala keluarga.
Sifat
dari gerakan yang mereka lakukan itu masih sangat sederhana, gerakan-gerakannya
tidak disusun dalam bentuk organisasi yang moder. Dalam melakukan aksi
penentangnya mereka juga tidak mendasarkan pada rencan-rencana atau program,
gera-kan yang mereka lakukan hanya bersifat setempat dan tidak mempu-nyai
kerjasama dengan daerah lain. Aksi-aksi pemberontakanya tidak bersifat luas
seperti yang terjadi dalam perang Diponegoro, perang Padri, perang Aceh dan
lain-lain. Dapat dikatakan bahwa sifat gerakan yang mereka lakukan bersifat
tradisional yaitu menyerang atau menghadang lalu kabur kehutan untuk
bersembunyi,
Rakyat Baito
membuat benteng pertahanan guna menghindari serangan lawan yang dapat menye-rang
yang dapat menyerang secara tiba-tiba, pembuatan benteng tersebut sangat
sederhana yaitu mereka mendirikan pancangan-pancangan ka-yu besar secara rapat
sehingga sangat sulit untuk ditembus oleh pihak lawan. Di atas benteng tersebut
digantunglah kayu-kayu besar yang disebut dengan Luruh dimana setiap saat Luruh
tersebut dapat dilepas apabila keadaan dalam bahaya atau lawan sedang
mendekati tempat pertahanan tersebut. Dengan adanya benteng tersebut semakin
meper-kokoh kekuatan mereka dalam menghadapi segala macam bentuk serangan
Belanda. Ini terbukti disaat Belanda beberapa kali mengadakan penyerangan
ditempat tersebut selalu mengalami kegagalan bahkan pasu-kan morses Belanda
banyak yang tewas dan mengalami cedera yang berat akibat tertimpah Luruh yang dilepaskan yang dilepaskan oleh Rakyat Baito. Dengan
perjuangan gagah berani beserta dengan segala kemampuan yang mereka miliki
telah dicurahkannya dengan sekuat tenaga sehingga pasukan morses Belanda
mengalami kesulitan dalam mengha-dapinya. Namun pasukan Belanda tidak kehabisan
akal, mereka mem-bujuk sebagian rakyat agar beker-jasama dalam menghadapi
perjua-ngan Rakyat Baito yang tidak mau tunduk terhedap pemerintah hindia belanda.
Salah satu yang dilakukan oleh pihak Belanda yaitu mengirim mata-mata untuk
menyelidiki kelema-han-kelemahan pertahanan yang dimiliki rakyat Baito. Setelah
menyelesaikan tugasnya mata-mata tersebut kembali melaporkan kepada pasukan
Belanda bahwa salah satu cara untuk dapat menembus pertahanan Polonui dan
pasukannya (Rakyat Baito) yaitu
melakukan penyerangan dari arah utara dimana disisi tersebut tidak terdapat
benteng dan Luruh sehingga pasukan penyerang dapat sampai ketujuan atau sasaran
penyerbuan, dengan cara inilah yang membuat rakyat Baito mengalami kegagalan
atau kekalahan. Walaupun demikian sebelum pemi-mpin perjuangan mereka (Polonui)
tertangkap, telah terjadi kontak senjata yang cukup menggenaskan dimana kedua
pasukan tersebut banyak mengalami korban jiwa, namun pasukan morses Belanda
yang didukung oleh persenjataan yang cukup serta modern membuat pasukan Polonui
(Rakyat Baito) me-ngalami kewalahan dalam meng-hadapi serbuan pihak Belanda.
hingga pada akhirnya Polonui dan pasu-kannya dapat ditawan namun sebagian juga
dapat meloloskan diri dan mengadakan perlawanan di-tempat-tempat lain. Setelah
polonui tertangkap maka beliau dibuang ke Payakumbu (Makassar) hingga beliau
meninggal disana.
Taktik
Perjuangan
Taktik
perang didaratan yang biasanya dilakukan oleh para prajurit Indonesia ialah
degan cara menga-dakan seragan mendadak, musu ditunggu pada suatu tempat persem-bunyian
dan apabila musuh telah dekat barulah serangan dilakukan (Poesponegoro,
1982/1983: 90). Serangan semacam ini termasuk salah satu cara geriliya. Dalam
perang geriliya serangannya selalu dilakukan secara mendadak atau secara
tiba-tiba dengan tujuan untuk mengagetkan musuh dan mengacaukan situasi, se-hingga
musuh selalu dibuat kalang kabut. Dalam situasi demikian musuh yang dihadapi
mudah dikuasai. Tetapi dalam melakukan perang geriliya harus pula dilaksanakan
di medan yang strategis seperti di pegunungan dan hutan-hutan.
Perang
geriliya selalu meng-hindarkan diri dari penempatan pasukan dalam jumlah yang
besar, tetapi dikelompokkan menjadi bebe-rapa kelompok kecil (regu) prajurit
geriliya. Prajurut-prajurit geriliya setelah melakukan penyerangan mereka
menghilang memasuki hutan-hutan, desa-desa dan bekerja di ladang dan di sawa
bersama rakyat sehingga Belanda dan mata-mata tidak dapat membedakan antara
prajurit geriliya dan rakyat petani.
Taktik
geriliya ini juga dilakukan oleh rakyat Baito dalam mengadakan perlawanan
terhadap pasukan Hindia Belanda di Wawo Wonua Baito, hal ini di sebabkan karena
tidak seimbangnya persenjatan antara pasukan Belanda dengan pasukan Polonui
atau rakyat Baito. Belanda memiliki persenjataan yang jauh lebih lengkap dan
modern dibandingkan dengan persenjataan yang dimiliki oleh pasukan Polonui atau
Rakyat Baito yang hanya menggunakan senjata-senjata tajam seperti ta’awu (Parang Besar), Karada (Tombak), O’leko (keris) dan lain-lain sehingga tidak memung-kinkan untuk
melakukan perang secara prontal atau terbuka melawan Belanda. (Wawancara David
Fata Tanggal, 7 Februari 2016) Disamping itu lokasi perjuangan Rakyat Baito
juga sangat mendukung karena keadaan alamnya dimana banyak bukit atau gunung
dan hutan-hutan sehingga sanggat cocok untuk di-jalankan perang geriliya.
Sebagaimana
yang dikemuka-kan oleh David Fata bahwa dalam mengadakan perlawanan Rakyat
Baito menggunakan taktik geriliya yakni pada saat musuh sedang berpa-troli
tiba-tiba muncul menyergap dan menyerang kemudian menghilang dan masuk
kehutan-hutan untuk berlindung. Hal ini dilakukan di daerah Baito yang merupaka
daerah strategi untuk perang geriliaya (Wawancara Tanggal, 7 Februari 2016)
demikian pula gerakan perlawanan yang dilakukan secara bertahap dari waktu
kewaktu dan tidak hanya terpusat pada satu daerah saja melainkan
berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain yang memungkinkan untuk
diadakannya penyerangan. Dengan cara demikian sangat menyulitkan pihak Belanda
dalam menindas perjuangan Rakyat Baito tersebut, sehingga tidak jarang pasukan
Belanda mengalami kerugian yang berarti. Untuk menjamin keamanan dalam daerah
pihak Belanda meningkatkan pengawasan dengan cara bekerja sama dengan penduduk
setempat.
Dampak Yang Ditimbulkan Oleh Perlawanan
Rakyat Terhadap Belanda.
Bidang
Politik
Perjuangan
rakyat dalam menentag penjajahan Belanda membawah pengaruh khususnya dibidang
politik, karena keinginan Belanda untuk menguasai daerah Baito telah mendapat
hambatan dan tantangan yaitu dengan adanya perlawanan Rakyat yang dimotori atau
dipimpin oleh Polonui. Oleh karena itu untuk menumpas perlawanan Rakyat,
Belanda memperkuat diri dengan menambah personil militer dan persenjataannya
guna menguasai daerah pedalaman. Dengan adanya bantuan-bantuan tersebut
menyebabkan kedudukan dan kekuasaan raja semakin lama semakin tersisih,
sehingga Kerajaan Laiwoi bentukan
Belanda sebagai pengganti Kerajaan Konawe harus menandatangani Lage Verklaning
pada tahun 1917 yang berarti semakin sulitlah kemungkinan bagi rakyat untuk
melancarkan serangan baru terhadap Belanda.
Bidang
Sosial Ekonomi.
Perjuangan
Rakyat ternyata membawah pula dampak dibidang sosial karena setelah Belanda
dapat menumpas perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh kelompok tertentu,
maka rakyat harus mengikuti Rodi, membayar pajak dan diharuskan memiliki Kartu
Tanda Penduduk. (Chalik 1984: 62). Sebagai akibat adanya peraturan Belanda itu
rakyat semakin merasakan penderitaan dan kemelaratan, bahkan kematian karena
disebabkan tidak adanya makanan, dan adanya kerja paksa tersebut (Dafid Fatta,
Wawancara Tanggal 7 Februari 2016).
Sedangkan
dibidang ekonomi mendorong disatu pihak pemerintah Belanda untuk semakin
memperluas penguasaanya terhadap potensi kekuatan ekonomi rakyat dengan cara
memperluas pembukaan jalan kebeberapa jurusan pedalaman dan bagi masyarakat
pedalaman dengan dibukanya jaringan jalan tersebut maka terbuka pula peluang
bagi mereka untuk menjual hasil-hasil hutan dan kebun kepada pedagang-pedagang
yang menjadi kaki tangan pihak Belanda, terutama orang-orang Tionghoa yang dari
semula telah dijadikan oleh orang Belanda sebagai ujung tombak untuk memperkuat
kedudukan ekonomi pemerintah Hindia Belanda.
Bidang Ketahanan dan Keamanan.
Bagi
penjajah Belanda sebelum terbukanya jaringan jalan dan dengan adanya perlawanan
Rakyat Baito tersebut membuat pertahanan dan keamanan mereka terancam, dan
selalu ketakutan ketika mereka melakukan patroli, tetapi dengan terbukanya
jaringan jalan baru tersebut yang dapat menghubungkan antara pedalaman dan
pusat kerajaan ternyata membawah pula keuntungan bagi pertahanan dan keamanan
mereka, karena jarigan jalan itu dapat mempermuda untuk mengadakan patroli memasuki daerah-daerah pedalaman yang
sebelumnya sangat sulit untuk dilaksanakan.
(Taslian Porende, Wawancara Tanggal 2 Februari 2016). Hal ini pula yang menyebabkan
kedudukan dan pertahanan Belanda semakin kokoh sehingga dapat menunjang
berlangsungnya kekuasaan kolonial Belanda lebih mantap, baik bidang politik,
ekonomi, maupun sosial Budaya.
KESIMPULAN
Berdasarkan dari uraian yang telah dikemukakan pada bab terdahulu, maka
dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Perlawanan
Rakyat Baito menentang Imperealisme Belanda disebabka oleh adanya usaha bangsa
Belanda untuk menguasai daerah Konawe baik dari segi politik, ekonomi,maupun
sosial budaya, dan adanya tindakan kejam dan sewenang-wenang yang dilakukan
oleh pemerintah Hindia Belanda sehingga membangkitkan semangat Nasionalisme
para pemuda di kerajaan Konawe khususnya didaerah Baito untuk menantang
kehadiran pemerintah Belanda.
2. Rakyat
dalam usahanya menentang Imperialisme Belanda melakukan suatu strategi dengan
cara mengadakan gerakan sosial dan membuat benteng pertahanan di puncak gunung,
disamping itu pula ia mengadakan taktik perang bergerilya, hal ini disebabkan
karena keadaan alam yang mendukung disamping itu pula peralatan perang yang
dipergunakan masih sangat sederhana jika dibanding dengan yang dipergunakan
oleh bangsa Belanda yang jauh lebih modern.
3. Sebagai
akibat yang ditimbulkan perjuangan rakyat terhadap imperialisme Belanda dapat dilihat
dari beberapa segi yaitu: Bidang politik, yaitu keinginan bangsa Belanda untuk
menguasai Kerajaan Konawe mengalami hambatan namun setelah mereka dapat
menumpas segala perlawanan rakyat, maka sulitlah bagi mereka untuk melakukan
perlawanan. Bidang sosial rakyat harus mengikuti rodi, membayar pajak sebagai
akibat dari adanya peraturan belanda tersebut rakyat semakin menderita dan
melarat, Bidang ekonomi pemerintah hindia belanda membuka jalan kebeberapa
jurusan pedalaman dan bagi masyarakat pedalaman dengan dibukanya jalan tersebut
maka terbuka pula peluang bagi mereka untuk menjual hasil hutan dan kebun
mereka kepedagang yang menjadi kaki tangan belanda, terutama orang-orang
Tionghoa yang dari semula telah dijadikan oleh Belanda sebagai ujung tombak untuk
memperkuat kedudukan ekonomi pemerintah Hindia Belanda. Bidang ketahanan dengan
terbukanya jaringan jalan baru tersebut membawah keuntungan bagi pertahanan
mereka dan keamanan mereka jaringan jalan itu dapat mempermuda untuk mengadakan
patroli memasuki daerah-daerah pedalaman yang sebelumnya sangat sulit untuk
dilakukan.
DAFTAR
PUSTAKA
Ali Hadara, dkk.
2007. Profil Pejuang Sulawesi Tenggara.
Kendari: Unhalu.
Basrin
Melamba. dkk. 2013. Tolaki Sejarah,
Identitas dan Kebudayaan. Yogyakarta: Lukita.
Berthin
Lakebo dkk, 1984. Pola Penguasaan dan
Pemilikan Tanah Secara Tradisional daerah Sulawesi Tenggara. Proyek IDKD
Dimpso
Manlu. 2009. Gerakan Sosial Dan Perubahan
Kebijakan Publik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Husen, A. Chalik, 1982. Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan
Kolonialisme di Sulawesi Tenggara. PIPK kendari.
Hidayat,
1986. Kepemimpinan dan Supervisi
Pendidikan. Malang: Sumber Ilmu Jember.
Kansil
C.S.T. & julianto, 1988 Sejarah
Perjuangan Pergerakan Kebangsaan Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Kundu
Sulaiman. 2004. Perjuangan Haji Hasan
Menentang Imperealisme Belanda di Wawo Kolaka (1906-1914). Kendari: Skripsi
FKIP Unhalu.
La
Anti, 2004. Muna Affair 1947 (Perjuangan
Batalion Sadar terhadap NICA Distrik Katobu Onderafdeling Muna). Kendari:
Skripsi FKIP Unhalu.
Lothrop
Stoddard. 1966. Pasang Naik Kulit
Berwarna. Jakarta: Balai Pustaka.
Marwati
Djoenadi Poesponegoro, 1982/1983. Sejarah
Nasional Indonesia IV. Depdikbud, Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisi
Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
Muhammad Abduh,
1985. Sejarah Indonesia Madya. P3t.
IKIP Ujung Pandang.
Mustakim. 2003.
Perjuangan Langgore Menentang Imperealisme Belanda di Poli-Polia(1906-1908).
Kendari: Unhalu.
Nugroho
Notosusanto. 1978. Masalah Penelitian
Sejarah Kontemporer, (suatu pengalaman). Jakarta: Idayu
Piotr Sztompka.
2005 Sosiologi Perubahan Sosial.
Jakarta: Pranda Media Group.
Sahnia.
1994. Perjuangan Muhamadiyah dalam Membangkitkan
Kesadaran Masyarakat Menentang Sikap Penjajah Belanda di Muna. Kendari:
Skripsi FKIP Unhalu.
Saidiman
Suryohadiprojo. 1985. Masalah Pertahanan
Nasional Indonesia. Jakarta: PT Pembangunan
Sartono
Kartodirjo. 1990. Sejarah Nasional Jilid
IV. Jakarta: Balai Pustaka
_______________.
1993. Pembangunan Bangsa Tentang
Nasionalisme. Yogyakarta: Aditya Media.
Satrawati.
2007. Perjuangan Weribundu Terhadap
Penjajah Belanda di Distrik Tongauna (1906-1910). Kendari: Skripsi FKIP
Unhalu.
Slamet mulyono.
1986. Kesadaran Nasional dari
Kolonialisme Sampai Kemerdekaan. Jakarta: Inti Idayu Press.
Soebantardjo.
1960. Sari Sejarah Asia Australia.
Yogyakarta: Bopkri.
Susanto
Tirtoprojo. 1982. Sejarah Pergerakan
Nasional Indonesia. Jakarta: PT Pembangunan
Syafei. 1997. Pendidikan Ips. Jakarta: Depdibud
Syarifuddin
Jurdi. 2010. Sosiologi Islam dan
Masyarakat Modern. Jakarta: Prenada Media Group.
[1]Artikel Penelitian Tahun 2016
[2]Alumni Jurusan/Program Studi Pendidikan Sejarah UHO
[3]Dosen FKIP UHO

Tidak ada komentar:
Posting Komentar