Kamis, 07 Maret 2019

Historical Edcation Journal: ERJUANGAN RAKYAT BAITO MENENTANG IMPERIALISME BELANDA PADA TAHUN 1914


PERJUANGAN RAKYAT BAITO MENENTANG IMPERIALISME BELANDA PADA TAHUN 1914[1]
Oleh
Joni Iskandar[2]
H. Anwar[3]

ABSTRAK
Fokus utama penelitian ini mengacu pada beberapa masalah yaitu (1) Mendeskripsikan latar belakangi terjadinya perlawanan Rakyat Baito terhadap Hindia Belanda (2) MenganalisisStrategi dan taktik yang dilakukan oleh Rakyat Baito dalam menentang Hindia Belanda (3) Mendeskripsikan dampak yang ditimbulkan dari perlawanan Rakyat Baito terhadap Hindia Belanda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yang menempuh empat tahapan kerja sebagai berikut: (1) Heuristik, yaitu pengumpulan data melalui studi kepustakaan, penelitian lapangan, dan pengamatan, (2) Kritik, yakni penilaian terhadap otensititas dan kredibilitas data, (3) Interpretsi yakni penapsiran terhadap data yang telah dikritik, dan (4) Historiografi, yakni penyusunan data secara kronologis, sistematis, dan ilmiah. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Latar belakang perjuangan Rakyat Baito menentang Hindia Belanda adalah adanya usaha bangsa Belanda menguasai daerah Konawe baik dari segi politik, ekonomi, sosial dan budaya, serta adanya tindakan kejam dan sewenang-wenang yang dilakukan oleh pemerintahHindia Belanda terhadap rakyat, (2) Rakyat Baito dalam menentang Hindia Belanda melakukan strategi yaitu dengan cara mengadakan gerakan sosial dan membuat pertahanan di puncak gunung, dan taktik yang dilakukan Rakyat Baito yaitu dengan perang geriliya,  (3) Dampak dari perjuangan Rakyat Baito menentang Hindia Belanda dapat dilihat dari berbagai segi yaitu bidang politik keinginan Bangsa Belanda untuk menguasai kerajaan Konawe mengalami hambatan namun setelah mereka dapat menumpas segala perlawanan Rakyat Baito, Bidang sosial rakyat harus mengikuti rodi, membayar pajak sebagai akibat dari adanya peraturan Belanda tersebut rakyat semakin menderita dan melarat, dibidang ekonomi pemerintah Hindia Belanda melakukan pembukaan jalan kebeberapa jurusan pedalaman dan dengan dibukanya jalan tersebut maka terbukalah peluang bagi mereka untuk menjual hasil hutan dan kebun kepada pedagang-pedagang yang menjadi kaki tangan Belanda. Bidang ketahanan dan keamanan dengan terbukanya jalan baru tersebut ternyata membawah keuntungan bagi pertahanan dan ketahanan mereka, karena dengan jaringan jalan tersebut dapat mempermuda untuk mengadakan patroli memasuki daerah-daerah pedalaman yang sebelumnya sangat sulit untuk dilaksanakan.

Kata Kunci: Menentang, Imprealisme Belanda, Perjuangan, dan Rakyat Baito



PENDAHULUAN
Pemerintah Hindia Belanda berkuasa dikerajaan Konawe adalah sejak tahun 1906. Kerajaan Konawe adalah merupakan salah satu kerajaan dari empat kerajaan besar di Sulawesi Tenggara, diantaranya Kerajaan Buton dan Kerajaan Muna keduanya berada dikepulauan, Kerajaan Konawe/Laiwoi dan Kerajaan Mekongga  (Kolaka) keduanya berada di-daratan. Keempat kerajaan tersebut menan-datangani Korte Verklaring (Perjan-jian Pendek/Singkat) yang menjadi momentum Belanda menganeksasi wilayah Kerajaan Konawe dan dimasukkan dalam Hindia Belanda. Setelah Belanda berkuasa di Kerajaan Konawe berbagai dampak dirasakan oleh Rakyat Konawe, usaha Belanda memaksakan monopoli perda-gangan, dan mencampuri urusan ursan kerajaan Konawe menimbulkan perlawanan Rakyat Konawe terhadap Imperealisme dan Kolonialisme diwilayah Konawe. Latar belakang meletusnya perlawanan Konwe terhadap Imperialisme dan Kolonialisme Belanda disebabkan antar lain karena mempertahankan kehidupan yang bebas dan merdeka yang dimiliki sejak beberapa abad lampau yang dengan kedatangan bangsa Belanda ini akan tidak berlaku lagi. Sebagai contoh dapat dikemukakan, bahwa pada waktu berhubungan dengan bangsa Portugis, mereka bebas saling tukar menukar barang dengan senjata, tetapi dengan Belanda akan lain keadaanya. Kemarahan dan ketidak senangan rakyat terhadap bangsa Barat ini menjadi memuncak adalah karena Belanda semakin menginjak-injak kedaulatan rakyat Kerajaan Konawe dan Belanda telah memecah belah persatuannya untuk kemudian menguasainya. Hal ini terbukti setelah Belanda berhasil mendirikan Negara Bonekayakni Kerajaan Laiwoi yang tidak didukung oleh rakyatnya dan para bangsawan Konawe, ketidak senangan rakyat Konawe ini diwujudkan dalam suatu perlawanan terhadap Belanda (Basrin Melamba, 2013: 339).
Perlawanan Kerajaan Konawe tidak saja terjadi dipusat kerajaan Konawe, tetapi terjadi pula didaerah-daerah antara lain Manumohewu di Palangga, di Wawowonua Baito dan di Wuu ura Motaha. Di Wawowonua dekat Baito terdapat suatu pertahanan menentang kehadiran Belanda di Konawe Selatan. Perlawanan ini dike-palai atau dipimpin oleh seorang tokoh yaitu Polonui yang memilih puncak sebuah gunung sebagai kubuh pertahanannya. Lereng gunung dibersih-kan dari pohon-pohon, lalu dipersiapkan batang-batang kayu yang besar-besar dari puncak gunung untuk digulingkan kebawah. Pada tahun 1914 tibalah pasukan Morses Belanda untuk menaklukkan Polonui, dan pasukannya (Rakyat Baito). Segera mereka mandaki gunung melalui jalan yang sudah dibukakan. Setelah seluruh pasukan berada dipuncak gunung, dilepaskanlah batang-batang kayu yang terikat dipuncak gunung menggulung dan menghancurkan pasukan yang sedang mendaki. Korban Belanda tidak sedikit (Basrin Melamba, 2013: 352)
Dalam melakukan perlawanan, Polonui dan Rakyat Baito dibantu oleh seorang tabib perempuan yang bernama Tie Lete dan seorang yang merupakan komandan pasukan bernama Lindo yang melatih pasukan tentang teknik berkelahi dan membunuh lawan, kebiasaan mereka memperagakan perang berupa tarian perang yang disebut Umoara. Dalam mengadakan perang, sebagai-mana pula pejuang-pejuang lainnya di Kerajaan Konawe, Rakyat menggunakan taktik dan strategi perang geriliya yang selalu berpindah-pindah tempat dan sewaktu-waktu dapat melakukan sera-ngan mendadak kemudian masuk hutan kembali. Dengan cara demikian pihak Belanda selalu kewalahan menghadapi perlawanan Rakyat sehingga sering menimbulkan kerugian besar bagi mereka.
Dari latar belakang diatas maka peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut: (1) Apakah yang melatar belakangi terjadinya perlawanan Rakyat Baito terhadap Hindia Belanda? (2) Bagaimana strategi dan taktik yang dilakukan oleh Rakyat Baito dalam menentang Hindia Belanda? (3) Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari perlawanan Rakyat Baito terhadap Hindia Belanda?

KAJIAN PUSTAKA

Teori Gerakan Sosial
Gerakan Sosial adalah tindakan kolektif yang diorganisir secara longgar, tanpa cara terlembaga untuk menghasil-kan perubahan dalam masyarakat mereka (Lothrop Stoddard, 2005: 325). Gerakan sosial umumnya lahir dari situasi yang dianggap tidak adil sehing-ga diperlukan sejumlah tindakan untuk merubahnya.
Dari pengertian diatas, dapat ditarik benang merah bahwa, tanpa adanya ketidak puasan, geraka sosial tidak akan mungkin tercipta. Menyang-kut gerakan sosial perjuangan rakyat, maka teori gerakan sosial yang relevan untuk dipakai adalah teori ketidak puasan dengan cara aksi kolektif atau teori aksi kolektif. Perjuangan Rakyat Baito terjadi karena adanya ketidak puasan, ketidak adilan, perampasan hak, dan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Rakyat Baito yang tidak tahan dengan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda melakukan perlawanan.

Konsep Imperialisme
Imperealisme muncul sebagai akibat adanya kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi sehi-ngga mengakibatkan munculnya pola-pola kehidupan masyarakat barat yang diikuti oleh peralihan kehidupan dari sistem tradisional ke sistem modern.
Imperealisme adalah politik untuk menguasai seluruh dunia dengan paksaan untuk kepentingan diri sendiri yang dibentuk sebagai imperiumnya. Menguasai tidak berarti merebut dengan kekuatan senjata, tetapi dapat juga dengan menggunakan kekuatan ekono-mi, kultur, agama, dan ideologi, Imperealisme tidak hanya berarti daerah-daerah jajahan tetapi dapat juga berupa daerah pengaruh kekuasaan (Soebantardjo, 1960: 236).
Pada umumnya kegiatan imperealisme itu sendiri dimulai dengan kegiatan inflitrasi atau penyusupan, invasi atau penyerbuan serta dengan agresi yang dilakukan tanpa mengin-dahkan aturan-aturan hukum internasio-nal yang berlaku sehingga selalu mengandung pengertian yang negatif. Sejalan dengan kenyataan tersebut, maka dalam kamus pengetahuan umum dan politik  disebutkan bahwa imperea-lisme pada dasarnya bertujuan untuk menghapus kemerdekaan bangsa lain karena ditaklukannya atau dipaksanya secara halus atau kasar menurut kehendak atau keinginan demi kepen-tingan kaum imperealis (Hidayat, 1986: 409).

Konsep Nasionalisme
Setiap bangsa didunia, tentunya memiliki rasa cinta akan tanah air dan bangsanya sehingga dalam segala hal timbul keinginan untuk selalu berusaha menjaga dan mempertahankan diri dari segala bentuk ancaman yang dapat menghancurkan keutuhan bangsanya. Konsep nasionalisme sering dikaitkan dengan praktek kolonialisme, pada jaman penjajahan manipestasi nasiona-lisme lebih nyata dalam melawan kolonialisme, olehnya itu nasionalisme suatu bangsa sangat penting dalam kehidupan bernegara dalam memper-satukan keutuhan bangsanya.
Timbulnya nasionalisme di Indonesia tidak terlepas dari situasi politik dan reaksi terhadap imperealisme dan kolonialisme barat yang telah meng-injak-injak martabat Bangsa Indonesia selama kurun waktu lebih tiga setegah abad lamanya, dengan demikian pera-saan senasib dan sepenanggungan akan mendorong aktivitas masyarakat dalam mempercepat proses terbinanya sema-ngat kebangsaan.

Konsep Pertahanan
            Membahas masalah konsep pertahanan mengandung maksud bahwa pertahanan diperlukan oleh suatu bangsa atau negara guna melindungi dirinya dari serangan atau ancaman yang dapat membahayakan kepentingan dari negara yang bersangkutan. Memang pada dasarnya pertahanan memiliki kedudu-kan yang sangat penting karena kokoh tidaknya suatu daerah banyak ditentukan oleh kondisi pertahananya. Sesunguhnya konsep pertahanan itu sendiri tidak terlepas dari strategi perang dimana kata strategi itu berasal dari bahasa Yunani yang mengandung pengertian sebagai the art of general atau seninya seorang panglima. Konsepsi perang/konsepsi pertahanan merupakan dasar bagi per-encanan untuk mempersiapkan perang. Pertahanan adalah pikiran umum tentang siapa musuh, dimana akan terjadi perang, bila mana perang itu akan pecah, bagaiman perang akan dilakukan serta tujuan apa yang akan dicapai dari perang tersebut (Saidiman Suryohadiprojo, 1985: 68).
            Sehubungan dengan pendapat diatas maka konsep merumuskan apa yang dipakai dalam menyusun per-tahanan apakah akan menggunakan cara opensif (menyerang) atau dengan cara defensif (bertahan). Untuk melakukan opensif berarti suatu negara harus mengadakan serangan dengan kekuatan senjata, memasuki daerah musuh dan menduduki daerah-daerah penting dalam wilayahnya yang bersangkutan. Perse-diaan sarana dan prasarana militir sangat menunjang dengan cara ini. Jika suatu negara tidak dapat menggunakan dengan cara opensif maka negara tersebut dapat menggunakan cara defensif. Hal ini negara tersebut harus mampu memper-tahankan kedudukannnya dan menolak apa yang diinginkan oleh musuh dengan jalan membangun saran dan prasarana militer dari daerah itu sendiri (Saidiman Suryohadiprojo, 1985: 70).
Pada dasarnya proses terben-tuknya suatu sistem pertahanan dari suatu daerah atau negara disamping muncul dari daerah itu sendiri yang menginginkan stabilitas yang aman juga terkadang muncul dari bangsa pendatang yang menguasai suatu daerah, kemudian membangun suatu sistem pertahanan yang kuat guna melindungi kepentingan dan memperlancar arus penduduknya. Hal ini telah banyak dibuktikan dalam sejarah bahwa banyak sistem pertahanan yang didirikan oleh kaum imperealis pada suatu daerah setalah itu diduduki-nya separti halnya dengan pendudukan tentara tentara Belanda di Sultra suatu daerah yang strategis untuk kepentingan perangnya maupun untuk kepentingan ekonominya maka disitulah didirikan benteng-benteng pertahanan yang kesemuanya dimaksudkan untuk mendukung imperialismenya.
Hasil penelitian lain dilakukan oleh La Anti (2004: 38)tentang Muna Affair tahun 1947 (Perjuangan Batalyon Sadar Terhadap NICA Distrik Katobu Onderafdeling Muna) mengungkapkan bahwa Perlawanan Batalyon Sadar terhadap NICA disebabakan karena adanya tindakan sewenang-wenang tentara NICA yang melakukan teror, intimidasi dan provokasi terhadap masyarakat Muna. Selain itu juga dipicu oleh adanya sikap dan perlakuan tentara NICA (Belanda) yang memaksa masyarakat Muna untuk menanam pohon jati yang akan menjadi milik Pemerintah Kolonial Belanda.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukan perlunya dilakukan penelitian tentang perjuangan Rakyat Baito menentang Imperealisme Belanda, karena selama ini belum ada kajian yang khusus membahas masalah tersebut.

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Baito, Kecamatan Baito, Kabupaten Konawe Selatan, dan penelitian ini di laksanakan pada bulan Januari 2016-Maret 2016.
Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian Sejarah yang bersifat kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan strukturis yang mempelajari peristiwa dan struktur sebagai suatu kesatuan yang saling melengkapi. Artinya peristiwa mengandung penguatan mengubah hambatan atau dorongan bagi tindakan perubahan dalam masyarakat.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terbagi dalam tiga kategori  sebagai berikut: (1) Sumber tertulis, yaitu data diperoleh dalam bentuk tulisan yang berupa buku, skripsi, serta hasil penelitian yang relevan yang mendukung perolehan data penyusunan kripsi ini. Sumber tersebut diperoleh di beberapa perpustakaan, maupun dilokasi penelitian serta melalui internet. (2) Sumber lisan, yakni diperoleh data melalui keterangan lisan (wawancara) dengan tokoh-tokoh adat yang mengetahui tentang perjuangan rakyat Baito dalam menentang imperialisme Belanda pada tahun 1914. (3) Sumber Visual, yaitu diperoleh melalui benda-benda peninggalan rakyat Baito yang ikut berperang, atau berjuang.
1.    Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah sebagaimana yang dikemukakan oleh Nugroho Notosusanto (1978: 36) bahwa keseluruhan prosedur kerja metode sejarah biasanya dibagi atas empat tahap kegiatan, yaitu: (1). Heuristik, yakni kegiatan menghimpun jejak-jejak masa lampau, (2). Kritik, yaitu menyelidiki apakah jejak-jejak itu sejati baik bentuk maupun isinya, (3). Interpretasi, yakni menetapkan makna dan saling hubungan dari pada fakta-fakta yang diperoleh, dan (4). Historiografi, yakni menyampaikan sintesa yang diperoleh dalam bentuk suatu kisah.
Tahap pertama, Tahap heuristik, yaitu upaya untuk menghimpun data yang relevan dengan pokok permasalahan dalam penelitian ini. Heuristik merupakan tahap awal dari historiografi yang diawali dengan tahap penjajakan, perincian, serta pengumpulan sumber yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Tahap ini merupakan langkah awal dalam melakukan kegiatan mencari dan mengumpulkan data yang relevan dengan pokok  perma-salahan dalam penelitian. Adapun teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut: (a) Studi kepus-takaan, yakni teknik yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan dengan menelaah bebe-rapa buku/literatur, skripsi, majalah, serta sumber-sumber tertulis lainnya yang ada relevansinya dengan masalah yang diteliti. (b) Studi lisan, yaitu melakukan wawancara dengan informan yang dianggap banyak mengetahui tentang perjuangan Rak-yat Baito dalam menentang impe-realisme Belanda pada tahun 1914. (c) Pengamatan, yaitu mela-kukan peninjauan benda-benda peninggalan Rakyat Baito dalam berperang atau berjuang
Tahap kedua, Kritik yaitu kritik data untuk menyeleksi apakah data yang telah dikumpulkan tersebut akurat atau palsu, benar atau salah. Untuk menilai keaslian dan kebena-ran suatu data yang dikumpulkan maka perlu dilakukan kritik eksteren dan kritik interen.
a.    Kritik eksteren yaitu kritik yang dilakukan untuk mengetahui apakah data yang didapatkan asli atau tidak, hal ini dilakukan analisis terhadap keautentikan suatu sumber dengan jalan menyelidiki sifat-sifat luar dari sumber tersebut.
b.    Kritik interen yaitu kritik yang dilakukan dengan mengevaluasi kebenaran dan keabsahan data yang dapat dilakukan dengan cara melakukan analisis terhadap suatu sumber dengan jalan memban-dingkan antara bukti yang didapat dengan bukti-bukti lainnya melalui hasil pengamatan dan wawancara langsung kepada objek pelaku peneliti.
1.    Interpretasi (penafsiran data).
Setelah dilakukan kritik atau penilaian data melalui kritik eksteren dan kritik interen, maka data tersebut kemudian diinterpretasi atau dita-fsirkan dengan mengacu pada konsep yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Pada tahap ini keaslian dan kebenaran sumber data yang sudah ditetapkan melalui tahap kritik, selanjutnya dihubungkan antar data yang satu dengan data yang lainnya sehingga didapatkan suatu fakta sejarah yang dapat dipercaya kebena-rannya secara ilmiah.
Tahap ketiga, Historiografi yaitu merupakan tahap akhir dari seluruh rangkaian penelitian sejarah. Pada tahap ini dilakukan penyusun kisah sejarah secara kronologi dan sistematik berdasarkan fakta dan data yang telah dikumpulkan  sebagai bukti dalam penulisan sehingga menjadi suatu kisah yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah

HASIL DAN PEMBAHASAN

Latar Belakang Perlawanan Rakyat Baito Menentang Hindia Belanda
Latar belakang perjuangan Rakyat Baito secara umum sama halnya yang melatar belakangi perjuangan diseluruh kawasan Nusan-tara yakni tidak terlepas dari awal mula kedatangan bangsa Belanda di Indonesia yang bertujuan menanam-kan kekuasaan koloni baik dibidang politik, ekonomi maupun sosial budaya dalam usaha membulatkan daerah jajahan di Indonesia.
Di Sulawesi Tenggara banyak muncul perlawanan menentang Impe-rialisme Belanda dan banyak mela-hirkan pejuang-pejuang yang menjadi tokoh utama penggerak rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda dida-erahnya masing-masing. Seperti di Pulau Muna, Pulau Buton, di daerah Mornene, Kolaka, dan Konawe.
Terlebih-lebih ketika Suleman-dara mangkat pada tahun 1904 segera Belanda mengetahui bahwa rakyat Konawe ketidak adaan pucuk pimpinan, maka dengan segera pula siasat politik Devide Et Impera dilancarkan, para bangsawan Konawe harus diadu domba agar mereka menjadi lemah dan bisa dikuasai.
Langkah selanjutnya yaitu seusai perang Bone-Belanda semakin memusatkan parhatiannya terhadap jazirah tenggara sulawesi yang tidak lain dimaksud adalah Konawe yang sangat potensial kekayaan alamnya, oleh sebab itu pihak Belanda kembali memeriksa dokumen rahasia tentang perjanjian-perjanjiannya diber-bagai daerah Nusantara dan didapatinya kembali perjanjian tahun 1858 tentang terbentuknya Kerajaan Lai-woi dengan persetujuan pihak Belanda (Husen. A. Chalik, 1982: 42).
Dalam melaksanakan politik kolonial Belanda telah melakukan berbagai tindakan yang pada dasarnya ditujukan untuk memperkokoh kekuasaan kolonialnya, salah satu cara yang ditempuh yakni dengan mengeluarkan bermacam-macam aturan pajak yang dirasakan oleh rakyat sangat memberatkan dan jika dilanggar akan dikenakan sangsi berupa hukuman kerja (David Fatta, wawancara tanggal 7 Februari 2016)
Demikian pula dalam perkem-bangan pengaruh kolonialnya, terlihat oleh rakyat Konawe bahwa hal itu telah memasuki kehidupan tradisional dalam segala segi kehidupan. Dalam bidang politik misalnya pengaruh Belanda semakin kuat setelah melakukan intervensi intensif dalam persoalan-persoalan kekuasaan tradi-sional seperti dalam hal pengang-katan pejabat-pejabat kerajaan dan pelaksanaan kebijaksanaan kerajaan.
Semakin banyak turut campur Belanda pada kekuasaan tradisional mengakibatkan penguasa tradisional semakin tergantung pada kekuatan Belanda, sehingga kebebasan dan kekuasaan untuk menentukan kibijak-sanaan dalam negeri sendiri semakin menipis. Disamping itu penguasa wilayah yang dilakukan oleh Belanda berakibat pula makin berkurangnya penghasilan penguasa-penguasa tradi-sional.
Dalam bidang sosial dengan adanya campur tangan Belanda maka kekuasaan pejabat kerajaan dikurangi dan bahkan diganti melalui pilihan Belanda, disamping itu peranan kehidupan golongan bangsawan ke-pada masyarakat umum disebagian wilayah Baito telah hilang dan ban-yak memperbudak kalangan Rakyat Baito (David Fatta, Wawancara Tanggal 7 Februari 2016). Sedangkan dibidang kebudayaan terlihat pula adanya gejala pengaruh kebudayaan tradisional yang merupakan warisan dari leluhur (Abduh, 1985: 103).
Jadi jelasnya intervensi Kolonial Belanda dalam segala aspek yang bertujuan ekspansi wilayah dalam rangka praktek kolonialnya ini memancing perlawanan Rakyat Baito. Karena itu dengan latar belakang keadaan Daerah Baito yang mengalami tindakan kejam dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya selama berhubungan dengan Bangsa Belanda serta atas dasar semakin luasnya pengaruh Kolonial Belanda dalam kehidupan pemerintah tradisional menyebabkan bangkitnya tokoh-tokoh pemimpin perlawanan yang bahkan kemudian mempelopori perjuangan untuk mengusir penjajah Belanda. (Wawancara Muslim Riajal Polonui, Tanggal 9 Januari 2016). Tokoh-tokoh pemimpin tersebut kebanyakan dari raja-raja tradisional dan golongan rakyat biasa yang mulai menyadari bahwa akibat perten-tangan-pertentangan diantara mereka karena perebutan pengaruh yang semakin dipertajam oleh Belanda menyebabkan mudahnya wilayah dikuasai.
Latar belakang perlawanan Rakyat Baito secara umum dilakukan karena kedatangan bangsa Belanda didaerah Baito yang ingin menanam-kan pengaruh kolonialnya baik dibidang politik, ekonomi, sosial, maupun budaya.
Sebab Khusus perjuangan Rakyat Baito menentang Hindia Belanda diwilayah Wawowonua Baito secara khusus dilatar belakangi oleh ketidak sena-ngan terhadap Belanda yang akan mulai memperluas pengaruhnya memasuki wilayah Baito, dan alasan lainya yaitu Rakyat Baito menentang Imperialisme Belanda. Pertama ideologi pribumi yang tetap melekat pada Rakyat Baito mereka tidak sudi diperintah oleh bangsa asing yaitu Belanda yang mereka sebut Mata Wila (Mata Putih). Kedua, Rakyat Baito tidak setuju perlakuan Belanda terhadap rakyat dengan memerin-tahkan untuk membuat jalan melalui Heredients yaitu rodi kampung atau kerja paksa yang dibebankan kepada rakyat, ketiga, hilangnya kebebasan rakyat Baito, dan yang keempat adanya tindakan sewenang-wenang dan tindakan kejam pemerintah Kolonial Belanda terhadap Rakyat Baito.

Strategi dan Taktik Perjuangan Rakyat Baito dalam Menentang Hindia   Belanda

Strategi  Perjuangan
Pemimpin perjuangan atau Polonui dalam membentuk suatu gerakan sosial berusaha melakukan suatu propaganda terhadap suatu masyarakat sehingga sehingga dalam waktu singkat polonui berhasil menghimpun masyarakat sebanyak 40 kepala keluarga, kemudian mereka mengasingkan diri guna menghindari pengaruh dari pemerintah Kolonial Belanda dan melakukan perlawanan. Akibat dari gerakan yang dilaku-kannya maka pemerintah Belanda dibawah pasukan morsesnya menga-dakan penyerbuan sehingga berhasil menawan istri beliau, dengan demi-kian maka Polonui terpaksa menye-rahkan diri kepada pemerintah Belanda dan bersedia tunduk terha-dap pemerintah Belanda. Setiba di daerah Polonui berpura-pura untuk tunduk terhadap pemerintah Belanda, namun dibalik semua itu Polonui tetap berusaha menghimpun anggota masyarakat lalu kemudian mereka melarikan diri kesuatu tempat yang lebih jauh dan sangat sulit untuk dijangkau oleh pihak lawan. Setelah sampai kedaerah tujuan mereka mendirikan suatu perkampungan di-puncak gunung yang mereka namakan Wawo Wonua atau perkam-pungan yang berada ditempat ketinggian. Untuk lebih menarik simpatisan terhadapa rakyat maka Polonui mengumumkan kepada rak-yat bahwa di Wawo Wonua tersebut terdapat tabib (o’sando) yang dapat menyembuhkan segala macam penya-kit yang diderita oleh rakyat. Tabib tersebut bernama Tie Lete sehingga dalam waktu singkat polonui berhasil menghimpun sebanyak 80 kepala keluarga.
Sifat dari gerakan yang mereka lakukan itu masih sangat sederhana, gerakan-gerakannya tidak disusun dalam bentuk organisasi yang moder. Dalam melakukan aksi penentangnya mereka juga tidak mendasarkan pada rencan-rencana atau program, gera-kan yang mereka lakukan hanya bersifat setempat dan tidak mempu-nyai kerjasama dengan daerah lain. Aksi-aksi pemberontakanya tidak bersifat luas seperti yang terjadi dalam perang Diponegoro, perang Padri, perang Aceh dan lain-lain. Dapat dikatakan bahwa sifat gerakan yang mereka lakukan bersifat tradisional yaitu menyerang atau menghadang lalu kabur kehutan untuk bersembunyi,  
Rakyat Baito membuat benteng pertahanan guna menghindari serangan lawan yang dapat menye-rang yang dapat menyerang secara tiba-tiba, pembuatan benteng tersebut sangat sederhana yaitu mereka mendirikan pancangan-pancangan ka-yu besar secara rapat sehingga sangat sulit untuk ditembus oleh pihak lawan. Di atas benteng tersebut digantunglah kayu-kayu besar yang disebut dengan Luruh dimana setiap saat Luruh tersebut dapat dilepas apabila keadaan dalam bahaya atau lawan sedang mendekati tempat pertahanan tersebut. Dengan adanya benteng tersebut semakin meper-kokoh kekuatan mereka dalam menghadapi segala macam bentuk serangan Belanda. Ini terbukti disaat Belanda beberapa kali mengadakan penyerangan ditempat tersebut selalu mengalami kegagalan bahkan pasu-kan morses Belanda banyak yang tewas dan mengalami cedera yang berat akibat tertimpah Luruh yang dilepaskan  yang dilepaskan oleh Rakyat Baito. Dengan perjuangan gagah berani beserta dengan segala kemampuan yang mereka miliki telah dicurahkannya dengan sekuat tenaga sehingga pasukan morses Belanda mengalami kesulitan dalam mengha-dapinya. Namun pasukan Belanda tidak kehabisan akal, mereka mem-bujuk sebagian rakyat agar beker-jasama dalam menghadapi perjua-ngan Rakyat Baito yang tidak mau tunduk terhedap pemerintah hindia belanda. Salah satu yang dilakukan oleh pihak Belanda yaitu mengirim mata-mata untuk menyelidiki kelema-han-kelemahan pertahanan yang dimiliki rakyat Baito. Setelah menyelesaikan tugasnya mata-mata tersebut kembali melaporkan kepada pasukan Belanda bahwa salah satu cara untuk dapat menembus pertahanan Polonui dan pasukannya (Rakyat Baito)  yaitu melakukan penyerangan dari arah utara dimana disisi tersebut tidak terdapat benteng dan Luruh sehingga pasukan penyerang dapat sampai ketujuan atau sasaran penyerbuan, dengan cara inilah yang membuat rakyat Baito mengalami kegagalan atau kekalahan. Walaupun demikian sebelum pemi-mpin perjuangan mereka (Polonui) tertangkap, telah terjadi kontak senjata yang cukup menggenaskan dimana kedua pasukan tersebut banyak mengalami korban jiwa, namun pasukan morses Belanda yang didukung oleh persenjataan yang cukup serta modern membuat pasukan Polonui (Rakyat Baito) me-ngalami kewalahan dalam meng-hadapi serbuan pihak Belanda. hingga pada akhirnya Polonui dan pasu-kannya dapat ditawan namun sebagian juga dapat meloloskan diri dan mengadakan perlawanan di-tempat-tempat lain. Setelah polonui tertangkap maka beliau dibuang ke Payakumbu (Makassar) hingga beliau meninggal disana.    

Taktik Perjuangan
Taktik perang didaratan yang biasanya dilakukan oleh para prajurit Indonesia ialah degan cara menga-dakan seragan mendadak, musu ditunggu pada suatu tempat persem-bunyian dan apabila musuh telah dekat barulah serangan dilakukan (Poesponegoro, 1982/1983: 90). Serangan semacam ini termasuk salah satu cara geriliya. Dalam perang geriliya serangannya selalu dilakukan secara mendadak atau secara tiba-tiba dengan tujuan untuk mengagetkan musuh dan mengacaukan situasi, se-hingga musuh selalu dibuat kalang kabut. Dalam situasi demikian musuh yang dihadapi mudah dikuasai. Tetapi dalam melakukan perang geriliya harus pula dilaksanakan di medan yang strategis seperti di pegunungan dan hutan-hutan.
Perang geriliya selalu meng-hindarkan diri dari penempatan pasukan dalam jumlah yang besar, tetapi dikelompokkan menjadi bebe-rapa kelompok kecil (regu) prajurit geriliya. Prajurut-prajurit geriliya setelah melakukan penyerangan mereka menghilang memasuki hutan-hutan, desa-desa dan bekerja di ladang dan di sawa bersama rakyat sehingga Belanda dan mata-mata tidak dapat membedakan antara prajurit geriliya dan rakyat petani.
Taktik geriliya ini juga dilakukan oleh rakyat Baito dalam mengadakan perlawanan terhadap pasukan Hindia Belanda di Wawo Wonua Baito, hal ini di sebabkan karena tidak seimbangnya persenjatan antara pasukan Belanda dengan pasukan Polonui atau rakyat Baito. Belanda memiliki persenjataan yang jauh lebih lengkap dan modern dibandingkan dengan persenjataan yang dimiliki oleh pasukan Polonui atau Rakyat Baito yang hanya menggunakan senjata-senjata tajam seperti ta’awu (Parang Besar), Karada (Tombak), O’leko (keris) dan lain-lain sehingga tidak memung-kinkan untuk melakukan perang secara prontal atau terbuka melawan Belanda. (Wawancara David Fata Tanggal, 7 Februari 2016) Disamping itu lokasi perjuangan Rakyat Baito juga sangat mendukung karena keadaan alamnya dimana banyak bukit atau gunung dan hutan-hutan sehingga sanggat cocok untuk di-jalankan perang geriliya.
Sebagaimana yang dikemuka-kan oleh David Fata bahwa dalam mengadakan perlawanan Rakyat Baito menggunakan taktik geriliya yakni pada saat musuh sedang berpa-troli tiba-tiba muncul menyergap dan menyerang kemudian menghilang dan masuk kehutan-hutan untuk berlindung. Hal ini dilakukan di daerah Baito yang merupaka daerah strategi untuk perang geriliaya (Wawancara Tanggal, 7 Februari 2016) demikian pula gerakan perlawanan yang dilakukan secara bertahap dari waktu kewaktu dan tidak hanya terpusat pada satu daerah saja melainkan berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain yang memungkinkan untuk diadakannya penyerangan. Dengan cara demikian sangat menyulitkan pihak Belanda dalam menindas perjuangan Rakyat Baito tersebut, sehingga tidak jarang pasukan Belanda mengalami kerugian yang berarti. Untuk menjamin keamanan dalam daerah pihak Belanda meningkatkan pengawasan dengan cara bekerja sama dengan penduduk setempat.

Dampak Yang Ditimbulkan Oleh Perlawanan Rakyat Terhadap Belanda.

Bidang Politik
Perjuangan rakyat dalam menentag penjajahan Belanda membawah pengaruh khususnya dibidang politik, karena keinginan Belanda untuk menguasai daerah Baito telah mendapat hambatan dan tantangan yaitu dengan adanya perlawanan Rakyat yang dimotori atau dipimpin oleh Polonui. Oleh karena itu untuk menumpas perlawanan Rakyat, Belanda memperkuat diri dengan menambah personil militer dan persenjataannya guna menguasai daerah pedalaman. Dengan adanya bantuan-bantuan tersebut menyebabkan kedudukan dan kekuasaan raja semakin lama semakin tersisih, sehingga Kerajaan Laiwoi bentukan Belanda sebagai pengganti Kerajaan Konawe harus menandatangani Lage Verklaning pada tahun 1917 yang berarti semakin sulitlah kemungkinan bagi rakyat untuk melancarkan serangan baru terhadap Belanda.

Bidang Sosial Ekonomi.
Perjuangan Rakyat ternyata membawah pula dampak dibidang sosial karena setelah Belanda dapat menumpas perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh kelompok tertentu, maka rakyat harus mengikuti Rodi, membayar pajak dan diharuskan memiliki Kartu Tanda Penduduk. (Chalik 1984: 62). Sebagai akibat adanya peraturan Belanda itu rakyat semakin merasakan penderitaan dan kemelaratan, bahkan kematian karena disebabkan tidak adanya makanan, dan adanya kerja paksa tersebut (Dafid Fatta, Wawancara Tanggal 7 Februari 2016).
Sedangkan dibidang ekonomi mendorong disatu pihak pemerintah Belanda untuk semakin memperluas penguasaanya terhadap potensi kekuatan ekonomi rakyat dengan cara memperluas pembukaan jalan kebeberapa jurusan pedalaman dan bagi masyarakat pedalaman dengan dibukanya jaringan jalan tersebut maka terbuka pula peluang bagi mereka untuk menjual hasil-hasil hutan dan kebun kepada pedagang-pedagang yang menjadi kaki tangan pihak Belanda, terutama orang-orang Tionghoa yang dari semula telah dijadikan oleh orang Belanda sebagai ujung tombak untuk memperkuat kedudukan ekonomi pemerintah Hindia Belanda.

Bidang Ketahanan dan Keamanan.
Bagi penjajah Belanda sebelum terbukanya jaringan jalan dan dengan adanya perlawanan Rakyat Baito tersebut membuat pertahanan dan keamanan mereka terancam, dan selalu ketakutan ketika mereka melakukan patroli, tetapi dengan terbukanya jaringan jalan baru tersebut yang dapat menghubungkan antara pedalaman dan pusat kerajaan ternyata membawah pula keuntungan bagi pertahanan dan keamanan mereka, karena jarigan jalan itu dapat mempermuda untuk mengadakan patroli  memasuki daerah-daerah pedalaman yang sebelumnya sangat  sulit untuk dilaksanakan. (Taslian Porende, Wawancara Tanggal 2 Februari 2016). Hal ini pula yang menyebabkan kedudukan dan pertahanan Belanda semakin kokoh sehingga dapat menunjang berlangsungnya kekuasaan kolonial Belanda lebih mantap, baik bidang politik, ekonomi, maupun sosial Budaya.


KESIMPULAN
Berdasarkan dari uraian yang  telah dikemukakan pada bab terdahulu, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.    Perlawanan Rakyat Baito menentang Imperealisme Belanda disebabka oleh adanya usaha bangsa Belanda untuk menguasai daerah Konawe baik dari segi politik, ekonomi,maupun sosial budaya, dan adanya tindakan kejam dan sewenang-wenang yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda sehingga membangkitkan semangat Nasionalisme para pemuda di kerajaan Konawe khususnya didaerah Baito untuk menantang kehadiran pemerintah Belanda.
2.    Rakyat dalam usahanya menentang Imperialisme Belanda melakukan suatu strategi dengan cara mengadakan gerakan sosial dan membuat benteng pertahanan di puncak gunung, disamping itu pula ia mengadakan taktik perang bergerilya, hal ini disebabkan karena keadaan alam yang mendukung disamping itu pula peralatan perang yang dipergunakan masih sangat sederhana jika dibanding dengan yang dipergunakan oleh bangsa Belanda yang jauh lebih modern.
3. Sebagai akibat yang ditimbulkan perjuangan rakyat terhadap imperialisme Belanda dapat dilihat dari beberapa segi yaitu: Bidang politik, yaitu keinginan bangsa Belanda untuk menguasai Kerajaan Konawe mengalami hambatan namun setelah mereka dapat menumpas segala perlawanan rakyat, maka sulitlah bagi mereka untuk melakukan perlawanan. Bidang sosial rakyat harus mengikuti rodi, membayar pajak sebagai akibat dari adanya peraturan belanda tersebut rakyat semakin menderita dan melarat, Bidang ekonomi pemerintah hindia belanda membuka jalan kebeberapa jurusan pedalaman dan bagi masyarakat pedalaman dengan dibukanya jalan tersebut maka terbuka pula peluang bagi mereka untuk menjual hasil hutan dan kebun mereka kepedagang yang menjadi kaki tangan belanda, terutama orang-orang Tionghoa yang dari semula telah dijadikan oleh Belanda sebagai ujung tombak untuk memperkuat kedudukan ekonomi pemerintah Hindia Belanda. Bidang ketahanan dengan terbukanya jaringan jalan baru tersebut membawah keuntungan bagi pertahanan mereka dan keamanan mereka jaringan jalan itu dapat mempermuda untuk mengadakan patroli memasuki daerah-daerah pedalaman yang sebelumnya sangat sulit untuk dilakukan. 

DAFTAR PUSTAKA
Ali Hadara, dkk. 2007. Profil Pejuang Sulawesi Tenggara. Kendari: Unhalu.
Basrin Melamba. dkk. 2013. Tolaki Sejarah, Identitas dan Kebudayaan. Yogyakarta: Lukita.
Berthin Lakebo dkk, 1984. Pola Penguasaan dan Pemilikan Tanah Secara Tradisional daerah Sulawesi Tenggara. Proyek IDKD
Dimpso Manlu. 2009. Gerakan Sosial Dan Perubahan Kebijakan Publik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Husen, A. Chalik, 1982. Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sulawesi Tenggara. PIPK kendari.
Hidayat, 1986. Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan. Malang: Sumber Ilmu Jember.
Kansil C.S.T. & julianto, 1988 Sejarah Perjuangan Pergerakan Kebangsaan Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Kundu Sulaiman. 2004. Perjuangan Haji Hasan Menentang Imperealisme Belanda di Wawo Kolaka (1906-1914). Kendari: Skripsi FKIP Unhalu.
La Anti, 2004. Muna Affair 1947 (Perjuangan Batalion Sadar terhadap NICA Distrik Katobu Onderafdeling Muna). Kendari: Skripsi FKIP Unhalu.
Lothrop Stoddard. 1966. Pasang Naik Kulit Berwarna. Jakarta: Balai Pustaka.
Marwati Djoenadi Poesponegoro, 1982/1983. Sejarah Nasional Indonesia IV. Depdikbud, Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisi Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
Muhammad Abduh, 1985. Sejarah Indonesia Madya. P3t. IKIP Ujung Pandang.
Mustakim. 2003. Perjuangan Langgore Menentang Imperealisme Belanda di Poli-Polia(1906-1908). Kendari: Unhalu.
Nugroho Notosusanto. 1978. Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer, (suatu pengalaman). Jakarta: Idayu
Piotr Sztompka. 2005 Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Pranda Media Group.
Sahnia. 1994. Perjuangan Muhamadiyah dalam Membangkitkan Kesadaran Masyarakat Menentang Sikap Penjajah Belanda di Muna. Kendari: Skripsi FKIP Unhalu.
Saidiman Suryohadiprojo. 1985. Masalah Pertahanan Nasional Indonesia. Jakarta: PT Pembangunan
Sartono Kartodirjo. 1990. Sejarah Nasional Jilid IV. Jakarta: Balai Pustaka
_______________. 1993. Pembangunan Bangsa Tentang Nasionalisme. Yogyakarta: Aditya Media.
Satrawati. 2007. Perjuangan Weribundu Terhadap Penjajah Belanda di Distrik Tongauna (1906-1910). Kendari: Skripsi FKIP Unhalu.
Slamet mulyono. 1986. Kesadaran Nasional dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan. Jakarta: Inti Idayu Press.
Soebantardjo. 1960. Sari Sejarah Asia Australia. Yogyakarta: Bopkri.
Susanto Tirtoprojo. 1982. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta: PT Pembangunan
Syafei. 1997. Pendidikan Ips. Jakarta: Depdibud
Syarifuddin Jurdi. 2010. Sosiologi Islam dan Masyarakat Modern. Jakarta: Prenada Media Group.



[1]Artikel Penelitian Tahun 2016
[2]Alumni Jurusan/Program Studi Pendidikan Sejarah UHO
[3]Dosen FKIP UHO